comment 0

Yang Tidak Dipahami Denny Siregar dan Kelompok Pro Semen

Bagikan

SEJAK tahun 2014, saya intens mengamati bagaimana korporasi seperti PT Semen Indonesia berusaha menggiring opini publik di media dan juga di media sosial. Komentar saya biasanya pendek saja: mengerikan. Komentar tersebut bisa diartikan “menakutkan”, tetapi bisa juga diartikan dalam bentuk kiasan sebagai “luar biasa buruknya”.

Mungkin komentar tersebut dipicu dari pengetahuan dari sejumlah informasi di lapangan, semisal bagaimana korporasi berusaha menyetir sejumlah media di Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan kucuran kontrak iklan yang nilainya cukup besar atau bagaiman korporasi mempengaruhi sejumlah orang berkedudukan dengan memberangkatkan mereka ke Tanah Suci sehingga di masyarakat muncul pandangan misalnya, aksi-aksi penolakan semen tidak mungkin akan muncul di media-media massa.

Di ranah media sosial, saya menemukan pada tahun 2014, digunakannya figur Soekarno dan dikaitkan dengan nasionalisme yang seolah-olah dilekatkan pada pendirian pabrik semen yang memang diresmikan oleh Soekarno pada 7 Agustus 1957 sebagai hal yang mutlak harus dilakukan.

Isu nasionalisme ini terus didengung-dengungkan dalam penggalangan opini publik sampai dengan sekarang dengan mengajukan alasan karena banjirnya semen asing sampai pengkhianat bangsa dan dikucuri dana asing.

Selain itu, penggiringan opini juga dilakukan untuk menstigma para penolak pabrik semen. Pada tahun 2014, ketika awal tenda rakyat didirikan, kampanye penistaan dilancarkan kepada ibu-ibu yang berjaga di tenda tanpa dasar dan bukti. Misalnya mengatakan mereka dibayar, tidak kerja mengurus keluarga dan hanya duduk-duduk saja di tenda. Belakangan di tahun 2016 sampai hari ini, penistaan ganti ditujukan ke Gunretno dan Joko Prianto dari JMPPK/Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng dengan kampanye pengusiran dari desa dan dicap sebagai kriminal, sekalipun belum ada hasil pengadilan.

Lalu begitu gerakan menemukan formula baru ke aksi pasung semen, berbagai cara dicoba untuk menistakan. Mulai dari mengatakan petani-petani Kendeng dibodohi, ada aktor intelektual yang merencanakan aksi, sampai ke pemasungan semen adalah bentuk eksploitasi terhadap perempuan. Namun karena eskalasi kasus terus meningkat dan menggaung secara nasional, dipakailah cara yang lebih kotor lagi untuk menstigma semua orang yang bergerak pada kasus Kendeng ini sebagai “cari makan atas nama rakyat” sebagaimana yang ditulis oleh Denny Siregar di blog miliknya.

Jujur harus saya sampaikan bahwa cara komunikasi dan isi pesan yang disampaikan Denny Siregar dan kelompok pro-semen itu, yang kemungkinan besar dikelola melalui PR Agency atau konsultan komunikasi yang mendapat kucuran dana dari pihak semen, ketinggalan zaman dan omong kosong saja.

Apa yang Sebenarnya Dipermasalahkan?

Yang tidak dipahami oleh Denny Siregar dan kelompok pro-semen adalah yang dipermasalahkan adalah bukan soal tidak setuju dengan nasionalisme, menolak pembangunan, dan anti-asing, melainkan: pulau Jawa sudah tidak bisa lagi menopang industri semen. Betul, membangun membutuhkan semen, tetapi sebaiknya tidak menambang lagi bukan hanya di pegunungan Kendeng, tetapi di pulau Jawa. Pulau Jawa yang Denny Siregar dan kelompok pro-semen tinggali itu sudah padat penduduk dan daya topangnya untuk dibebani dengan pabrik semen sudah tidak bisa lagi. Itu berlaku untuk pabrik semen apa saja dari negara mana saja, bukan cuma yang BUMN ya. Soekarno sekalipun tidak akan membiarkan pulau Jawa yang gemah ripah loh jinawi ini dikorbankan untuk nafsu keserakahan korporasi semen. Kalau memang cinta tanah air, ya sudah seharusnya tidak merusak tanah dan air yang sudah diciptakan begitu indah dan subur ini.

Lalu yang tidak dipahami oleh Denny Siregar dan kelompok pro-semen adalah sebelum namanya menjadi PT Semen Indonesia, Semen Gresik sudah mencoba masuk ke kabupaten Pati tetapi ditolak oleh warga dengan alasan merusak lingkungan. Sudah diberitahu bahwa jangan lagi menambang di pulau Jawa, tetapi pindah ke Tuban dan lalu kembali lagi ke Rembang. Tidak percaya? Silakan minta pendapat mantan menteri negara lingkungan hidup Sonny Keraf! Atau sekiranya malas meminta pendapat, silakan menonton Talkshow Apakabar Indonesia Malam tanggal 22 Maret 2017.

Hal lain yang tidak dipahami Denny Siregar dan kelompok pro-semen adalah data statistik menunjukkan jumlah semen kita lebih dari cukup. Ini bukan perkara semen merek apa, tetapi semen yang dihasilkan bukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri melainkan diekspor ke luar negeri sampai ke Australia. Untuk apa?

Kalau alasannya adalah bisa dijual tinggi dan nantinya untuk menaikkan kesejahteraan masyarakat? Lho yang untung kan korporasinya. Bukan rakyat langsung. Lagipula memangnya menjadi petani itu tidak sejahtera hidupnya? Itu kan kata buzzer yang barangkali seumur hidupnya tidak pernah pegang pacul dan mandi keringat menanam padi.

Yang tidak dipahami Denny Siregar dan kelompok pro-semen lainnya adalah perbuatan memasung diri dengan semen adalah cara masyarakat petani di Kendeng mengekspresikan dirinya yang sedang susah. Hampir setahun lalu, ketika saya tanya apakah sakit dipasung seperti itu? Ibu-ibu itu menjawab, “Disemen seperti ini tidak apa-apa daripada alam lingkungan dirusak demi semen.” Ide ini datang dari mereka sendiri, dilakukan tanpa paksaan, yang akan sulit dipahami oleh orang seperti Denny Siregar yang tidak pernah susah hidupnya karena harta berharga: tanah dan airnya yang lestari dirusak. Lebih baik tidak mengukur berdasarkan standar hidup diri sendiri: kalau mereka berani, belum tentu karena disuruh orang, melainkan Anda sendiri yang takut melakukannya.

Yang saya temukan dalam diri mereka yang memasung dirinya dengan semen adalah keinginan untuk berkorban agar kelak anak-cucu generasi selanjutnya tetap bisa merasakan sejuknya hawa pegunungan Kendeng dan airnya yang jernih tanpa kotoran limbah. Pernahkah berpikir ke arah sana?

Terakhir yang tidak dipahami Denny Siregar dan kelompok pro-semen adalah mereka sebenarnya ya hanya rakyat jelata, sama saja seperti orang kebanyakan, yang akan disingkirkan oleh tuannya begitu tidak ada lagi gunanya. Mungkin bedanya hanya “cari makan dari korporasi jahat” namun semoga saya salah.

Mungkin ada baiknya saya segarkan lagi ingatan Denny Siregar bahwa kebebasan ekspresi yang sekarang ia gunakan itu, hasil darah dan keringat orang-orang yang dicapnya sebagai “cari makan atas nama rakyat” yaitu aktivis-aktivis yang sekarang berdiri bersama para petani Kendeng yang sudah lebih dulu akrab dengan desing peluru, tembakan gas airmata, keluar masuk penjara untuk memperjuangkan kebebasan berekspresi dari rezim yang korup dan manipulatif di zaman Orde Baru. Upaya menista seperti itu hanya menunjukkan bobroknya pikiran dan ketidakpedulian dirinya atas apa yang dulu setengah mati diperjuangkan tanpa lelah di bawah terik matahari dan represi.

Pahami Pesan dari Bu Patmi

Ibu Patmi binti Rustam adalah syuhada, pejuang yang tanpa lelah dan teguh dalam mempertahankan harta yang berharga dalam dirinya: tanah dan air. Pegunungan Kendeng adalah kehidupannya. Bersama perempuan-perempuan Kendeng lainnya, dia rela berjalan kaki ratusan kilometer untuk mencari keadilan. Kepada presiden Jokowi ia berpesan agar Pak Jokowi menyelesaikan masalah Kendeng. Ia bukan sedang merongrong wibawa presiden dan ingin melakukan tindakan makar. Bukan sama sekali.

Yang diminta oleh Bu Patmi adalah berikanlah kepada rakyat apa yang menjadi haknya. Jangan sekali-kali melanggar janji.

Ingatlah!

Ibu bumi wis maringi. Ibu bumi dilarani. Ibu bumi kang ngadili.
Bumi telah memberi. Bumi disakiti. Bumi akan mengadili.

Nah, sudah paham ‘kan sekarang? Jangan lakukan lagi ya. Salam sruput…

[dam]
Ditulis pada peringatan Hari Kebenaran Sedunia, 24 Maret 2017

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *