comment 0

Herawati Diah: Mewartakan Indonesia Sepanjang Hayat

TIDAK banyak nama perempuan Indonesia yang bisa disebut sebagai jurnalis sekaligus tokoh pers nasional. Namanya berada di antara jurnalis Indonesia yang berpengaruh dan kebanyakan laki-laki seperti Tirto Adhi Soerjo dengan harian Medan Prijaji yang didaulat menjadi perintis pers Indonesia, bersama dengan Abdoel Rivai dengan koran tentang Indonesia di Eropa, Dja Endar Moeda dengan koran berbahasa Melayu di Sumatera.

Namanya juga bisa disepadankan dengan Rosihan Anwar yang dikenal sebagai wartawan tiga zaman karena sudah menjadi wartawan sejak zaman kolonial, Orde Lama, Orde Baru, hingga Orde Reformasi. Beberapa mengenalnya sebagai Eyang Hera — mengingat usianya yang kini mencapai 99 tahun — namun beliau lebih dikenal dengan nama Herawati Diah.

comment 0

Mempertimbangkan Internet Dalam Gerakan Demokrasi di Indonesia

DEMOKRASI selalu mengetengahkan paradoks.  Tak terkecuali dengan demokrasi pasca reformasi 1998 di Indonesia, di mana terlihat fenomena perkembangan pemanfaatan teknologi internet yang sangat masif, khususnya pemanfaatan media sosial oleh netizen untuk perluasan demokrasi di satu sisi, sementara di sisi lain, khususnya dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini, makin marak penggunaan regulasi yaitu UU ITE untuk memidanakan netizen atas aktivitasnya di media sosial.

Bagaimana kita memahami implikasinya pada pelemahan demokrasi di Indonesia? Jawaban terhadap pertanyaan itu akan membawa kita pada penelusuran jejak penggunaan internet, sebagai instrumen paling kuat di abad ke-21.

comment 0

Ada Apa dengan Tiga Dara?

“Menggoenakan film itoe sebagai alat pendidik, sebagai alat jang sangat berpengaroeh oentoek menjebarkan tjita-tjita bangsa, meninggikan deradjat bangsa haroeslah mendjadi sifat dari kaoem producers, regisseur, dan penoelis-penoelis skenario.”

Andjar Asmara, Film dan Tonil Kita

Setelah Lewat Djam Malam, ada Tiga Dara. Keduanya adalah film Usmar Ismail—yang pertama edar pada 1954, yang kedua pada 1957. Keduanya, dalam tempo kurang dari lima tahun terakhir, adalah film Indonesia klasik yang berhasil direstorasi dan dipertontonkan lagi ke publik. Hasil restorasi Lewat Djam Malam singgah di bioskop dari pertengahan Juni hingga Juli 2012, mengumpulkan 5.116 penonton selama lima minggu masa tayang. Sementara itu Tiga Dara kembali menyapa khalayak nusantara pada 11 Agustus 2016 dan minggu-minggu setelahnya.

Meski lahir dari tangan yang sama, Lewat Djam Malam dan Tiga Dara jauh dari kata serupa. Lewat Djam Malam, produksi Perfini, menampilkan penjelajahan estetika realis Usmar Ismail, terinspirasi oleh gaya neorealisme Italia. Gaya serupa sudah beliau jajaki sejak memproduksi Darah dan Doa pada 1950. Sementara itu Tiga Dara, juga produksi Perfini, lebih dekat dengan film-film musikal ala Hollywood—jenis film populer kala itu. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa Tiga Dara merupakan hasil kompromi Usmar Ismail, alias proyek untuk cari uang. Ada apa sebenarnya?

comment 0

Mereka-reka Cerita dari Kartu Pos Lama

BUKU berisi koleksi kartu pos lama ini berbicara banyak tanpa perlu memasukkan banyak teks untuk menjelaskannya. Senada dengan yang disampaikan Seno Gumira Adjidarma dalam pengantar buku berjudul “Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe”, susunan foto para pekerja yan ditampilkan berikut penjelasan mengenai kondisi perekonomian rakyat Jawa di masa Kolonial Belanda di medio 1890-1940-an mampu menjadi “teks” untuk membaca apa yang terjadi pada masa lampau tersebut.