comment 0

Herawati Diah: Mewartakan Indonesia Sepanjang Hayat

Bagikan

TIDAK banyak nama perempuan Indonesia yang bisa disebut sebagai jurnalis sekaligus tokoh pers nasional. Namanya berada di antara jurnalis Indonesia yang berpengaruh dan kebanyakan laki-laki seperti Tirto Adhi Soerjo dengan harian Medan Prijaji yang didaulat menjadi perintis pers Indonesia, bersama dengan Abdoel Rivai dengan koran tentang Indonesia di Eropa, Dja Endar Moeda dengan koran berbahasa Melayu di Sumatera.

Namanya juga bisa disepadankan dengan Rosihan Anwar yang dikenal sebagai wartawan tiga zaman karena sudah menjadi wartawan sejak zaman kolonial, Orde Lama, Orde Baru, hingga Orde Reformasi. Beberapa mengenalnya sebagai Eyang Hera — mengingat usianya yang kini mencapai 99 tahun — namun beliau lebih dikenal dengan nama Herawati Diah.

Siti Latifah Herawati Diah lahir di Belitung, 3 April 2017. Sebelum menjadi jurnalis, ia mengenyam pendidikan tinggi di Europeesche Lagere School (ELS) di Salemba, Jakarta. Setelah itu ia bersekolah di American High School di Tokyo, Jepang. Lalu melanjutkan belajar sosiologi di Barnard College yang berafiliasi dengan Universitas Columbia, New York dan lulus pada tahun 1941.

 

Jurnalis Adalah Vokasi Khusus

Garis hidup Ibu Herawati Diah seakan tak jauh dari media. Ibunya mendapat pendidikan pesantren dan mendirikan majalah perempuan Doenia Kita. Pamannya Subardjo, sempat menjadi wartawan sebelum menjabat sebagai menteri luar negeri pertama untuk Indonesia. Tatkala sekolah di Jepang, ia kerap mengirim tulisan ke Doenia Kita dan dimuat. Herawati semakin tertarik dunia jurnalistik saat mengambil kuliah musim panas jurnalistik di Universitas Stanford, California. Maka ketika kembali ke Indonesia pada tahun 1942, tekadnya bulat untuk menjadi jurnalis. “Saat itu kerja jurnalistik sama halnya dengan kepemimpinan, arahnya mewujudkan cita-cita kemerdekaan,” kenang Ibu Herawati Diah saat diwawancarai oleh harian Kompas pada tahun 2012.

Ibu Herawati Diah kemudian bekerja sebagai wartawan lepas kantor berita United Press International (UPI). Lalu ia bergabung sebagai penyiar di radio Hosokyoku. Herawati menikmati dunia jurnalistik. Jurnalis adalah vokasi khusus, bukan sekedar pekerjaan biasa. Profesi jurnalis memberinya kesempatan bertemu dengan pemimpin besar, seperti Mahatma Gandhi, ketika menjadi bagian dari delegasi Indonesia untuk menghadiri All India Women’s Congress tahun 1948.

Ibu Herawati semakin dekat dengan dunia pers begitu menikah dengan B.M. Diah, yang waktu itu bekerja di koran Asia Raya. Pada 1955, Herawati dan suaminya mendirikan The Indonesian Observer, koran berbahasa Inggris pertama di Indonesia. Koran itu diterbitkan dan dibagikan pertama kali dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung, Jawa Barat, tahun 1955.

Tahun 2015, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menganugerahkan piagam penghargaan kepada 14 tokoh nasional yang berjasa pada program-program United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) di Indonesia. Ibu Herawati Diah termasuk salah satu tokoh yang menerima penghargaan di bidang komunikasi.
Mencurahkan Energi Untuk Menginspirasi

Di luar aktivitas sebagai jurnalis, Ibu Herawati Diah juga mencurahkan energi untuk kemajuan perempuan Indonesia. Saat terjadi pergolakan politik pada tahun 1998, misalnya, ia termasuk yang mendirikan gerakan masyarakat sipil Gema Madani dan ikut ambil bagian menuntut perdamaian dan penyelesaikan kasus-kasus kekerasan pada perempuan akibat kerusuhan sosial Mei 1998 menjelang kejatuhan Soeharto.

Ia termasuk yang vokal bersuara meminta BJ Habibie sebagai presiden terpilih untuk menggantikan Soeharto agar mengakui adanya kekerasan pada perempuan selama bulan Mei 1998 dan menjadi salah satu yang ikut membidani lahirnya Komisi Nasional untuk Perempuan (Komnas Perempuan) bersama dengan Ibu Saparinah Sadli. Kemudian bersama dengan Debra Yatim, Ibu Herawati Diah mendirikan Gerakan Perempuan Sadar Pemilu (GPSP) yang di kemudian hari menjadi Gerakan Pemberdayaan Swara Perempuan dan fokus pada upaya memberdayakan perempuan. Karena prihatin dengan tak meratanya pendidikan, Herawati membuka taman kanak-kanak bagi anak miskin di bawah naungan Yayasan Bina Carita Indonesia. Dan dirinya juga ikut mendirikan Hasta Dasa Guna, organisasi yang beranggotakan sekitar 100 perempuan berusia di atas 80 tahun itu.

Melihat beragamnya aktivitas yang dilakukan oleh Ibu Herawati Diah sampai hari ini, tak heran bila aktivitasnya menginspirasi pada banyak orang bagaimana seharusnya perempuan berperan di dalam dinamika bangsanya. Energinya mencerminkan apa yang dipercayainya, “Peran generasi 1945 itu menyalakan semangat dan roh kepada generasi sekarang”.

Pada 30 September 2016, Ibu Herawati Diah meninggal dunia di RS Medistra pada usia ke-99. Selamat jalan, ibu!

[dam]

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *