comments 4

Konflik dalam Polarisasi Opini di Dunia Siber dan Konsekuensinya Pada Demokrasi Digital di Indonesia

DUNIA SIBER diterjemahkan dari kata cyberspace, sebuah terminologi yang belum memiliki konsensus mengenai maknanya hingga saat ini. Seringkali dunia siber sebatas dimaknai dengan “segala hal yang berhubungan dengan jaringan dan komputer” tetapi definisi demikian itu tidak mencerminkan kompleksitas yang ada di dalam dunia siber.

Nicholas Negroponte penulis buku Being Digital yang terbit pada tahun 1995 menulis: “Computing is not about computers any more. It is about living.[1] Apa yang ia tuliskan tersebut menjadi kian relevan saat ini. Revolusi teknologi informasi telah membebaskan komputer dari sekedar kotak berisi keyboard dan layar hingga menjadi benda-benda yang kita gunakan untuk berbicara, kendarai, sentuh, bahkan gunakan.

comment 0

Herawati Diah: Mewartakan Indonesia Sepanjang Hayat

TIDAK banyak nama perempuan Indonesia yang bisa disebut sebagai jurnalis sekaligus tokoh pers nasional. Namanya berada di antara jurnalis Indonesia yang berpengaruh dan kebanyakan laki-laki seperti Tirto Adhi Soerjo dengan harian Medan Prijaji yang didaulat menjadi perintis pers Indonesia, bersama dengan Abdoel Rivai dengan koran tentang Indonesia di Eropa, Dja Endar Moeda dengan koran berbahasa Melayu di Sumatera.

Namanya juga bisa disepadankan dengan Rosihan Anwar yang dikenal sebagai wartawan tiga zaman karena sudah menjadi wartawan sejak zaman kolonial, Orde Lama, Orde Baru, hingga Orde Reformasi. Beberapa mengenalnya sebagai Eyang Hera — mengingat usianya yang kini mencapai 99 tahun — namun beliau lebih dikenal dengan nama Herawati Diah.

comment 0

Mempertimbangkan Internet Dalam Gerakan Demokrasi di Indonesia

DEMOKRASI selalu mengetengahkan paradoks.  Tak terkecuali dengan demokrasi pasca reformasi 1998 di Indonesia, di mana terlihat fenomena perkembangan pemanfaatan teknologi internet yang sangat masif, khususnya pemanfaatan media sosial oleh netizen untuk perluasan demokrasi di satu sisi, sementara di sisi lain, khususnya dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini, makin marak penggunaan regulasi yaitu UU ITE untuk memidanakan netizen atas aktivitasnya di media sosial.

Bagaimana kita memahami implikasinya pada pelemahan demokrasi di Indonesia? Jawaban terhadap pertanyaan itu akan membawa kita pada penelusuran jejak penggunaan internet, sebagai instrumen paling kuat di abad ke-21.